Ingat sinetron bajaj bajuri, serial sitkom
tahun 2004, dalam cerita tersebut, Fanny Fadillah alis Ucup, selalu memanggil
lawan mainya Said alias Saleh Ali dengan sebutan onta, dalam keseharian kita
tahu bahwa Fanny Fadilla beragama non muslim dan Saleh Ali beragama islam,
sepertinya sang sutradara sudah berfikir panjang, penyebutan onta dalam
sinetron tersebut, tidak akan menjadi polemik di masyarakat, kenapa ? karena
binatang onta sendiri masih dalam kategori candaan yang biasa, lain hal jika
kata onta diganti dengan kata babi, akan menjadi runyam kejadiannya, karena
kita tahu babi adalah binatang yang mengidentikan dengan najis dan haram dalam
islam.
Begitu juga penyebutan kata domba yang
tersesat, kami di sebut domba yang tersesat, sepertinya menjadi hal yang biasa
juga, tetapi sebaliknya kalian marah di
sebut kafir, seharus tidak perlu marah, karena orang budha menyebut
Abrahamacariyavasa, bagi yang tidak seaqidah dengan agama budha, atau agama
hindu menyebut Mairah diluar iman agama hindu.
Kami menyebut Kafir, karena bagi
kami kafir adalah mereka yang tidak menyembah Alloh, dan tidak percaya Muhammad
sebagai Rosullullah, tapi kenapa kalian marah di sebut kafir, atau karena ada
embel-embel orang kafir masuk neraka, kalau kepercayaan kalian kami yang masuk
neraka yaa monggo, tapi saya rasa bukan itu jawabnya, alasan kenapa marah,
karena dalam lubuk hati yang paling dalam, terdapat pengakuan tulus, bahwa
menjadi kafir bertolak belakang dengan hati nurani, kok bisa bertolak belakang
dengan hati nurani ? karena sewaktu di alam rahim, kita sama-sama bersaksi dan
berjanji, "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka
menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)", Al Araf 172
Jadi sebenarnya kita sama-sama satu
produk, produk Tuhan yang sama, namanya satu produk marah dong kalau di hina,
semisal kita sama-sama satu kandung dengan ibu kita, tiba-tiba ada yang mengatakan elo anak tetangga yaa ? Ko
muka elo beda dengan saudara kandung elo ?. Pasti akan marah dengan pertanyaan
tersebut, tentunya pertanyaan tersebut akan kamu bantah, tetapi jika kalian
yakin bahwa kalian adalah anak tetangga pasti kalian akan biasa-biasa aja, begitu juga jika kalian yakin dengan agama kalian tentu tidak perlu tersinggung dengan sebutan kafir,
kalian pun boleh ambil rujukan kitab kalian dengan menyebut kami domba yang
tersesat, insyaalloh saya tidak marah
Untuk sahabtku non muslim, kalian
tidak usah kawatir, selama kalian tidak memerangi kami, kami akan berbuat baik
dengan kalian, karena kafirpun terbagi manjadi 3 golongan, kafir harbi, kafir
yang merusak dan menista agama islam, ada juga kafir ahlu al had yaitu kafir
yang memiliki perjanjian dengan kaum muslim, mereka di lindungi, tetapi jika
mereka ingkar janji, mereka bisa menjadi harbi, dan yang terakhir kafir
dzimmni, kafir yang tidak memusuhi umat islam, dan ini wajib di lindungi oleh
umat islam, agar faham teman kami tidak memusuhi kalian, jika kalian tidak
memusuhi kami.
Semoga hidayah tercurah untuk kalian
Semoga hidayah tercurah untuk kalian




