Sabtu, 22 Juli 2017

Awalnya di paksa !



Dipaksa, terpaksa lalu terbiasa, begitu sewaktu ayah saya mencipratkan air ke muka, di waktu subuh ketika saya masih kecil, untuk ibadah ayah saya memaksa anaknya untuk sholat di masjid, ketika saya dewasa, saya menyadari bahwa ini buah dari paksaan ayah saat itu, saya merasa kurang , saat tidak melaksanakan sholat lima waktu, dan apakah ayah saya, kembali mencipratkan air kemuka saya, ketika saya tidak sholat saat dewasa, jawabanya tentu saja tidak, karena usia dewasa, saya sudah tahu mana benar mana salah.



Kata di paksa inilah mungkin saya gunakan untuk anak saya ketika lulus MI tahun ini, saya paksakan anak saya untuk masuk pesantren, saya putarkan video, menjelang tidur, tentang manfaat pendidikan pesantren dan Alhamdulillah anak sayapun luluh hatinya mau mengikuti kemauan abinya. Semoga engkau faham nak !!!, kata di paksa ini bukan berarti engkau di buang, Jangan ber prasangka buruk, terhadap abi, engkau nanti akan menyadari bahwa ini pilihan yang berat, Keputusan Abi memasukan kamu ke pondok bukan keputusan yang gampang, banyak pertentangan batin dalam hati abi, tetapi kewajiban meluruskan amanah dari sang pencipta, menjaga engkau dari pergaulan bebas, agar engkau terhindar dari fitnah akhir zaman, terpaksa harus abi lakukan.



Mungkin bagi sebagian orang tua, memaksakan kehendak kepada anak, akan berakhir tidak baik bagi perkembangan anak, malah ada yang bilang, belum tentu anak yang di paksa masuk pesantren itu sukses, saya balik bertanya, apakah anak yang di sekolah umum sukses semua ?
Bagi saya pribadi, memaksakan kehendak sebelum si anak dewasa adalah kewajiban para orang tua, memaksa kearah yang lebih baik dalam hal aqidah dan keimanan bukan hal sunah, tetapi ini sebuah kewajiban para orang tua, karena orang tua akan di mintai pertanggung jawaban kelak, setiap laki-laki adalah pemimpin, setiap pemimpin pasti Allah minta pertanggung jawaban, dasar inilah kenapa saya harus memaksa anak saya untuk masuk ke pesantren.

Anak ku, jika kelak engkau dewasa, abi akan bangga dengan pilihan cita cita mu nanti, jika engkau menjadi dokter, jadilah dokter yang berhati ikhlas, jika engkau menjadi cendikiawan, jadilah cendikiawan yang berhati mulia, jika kelak engkau menjadi negarawan jadilah negarawan yang berhati ulama, jika engkau menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang dermawan, atau apapun pilihan mu kelak, berahlak lah dengan ahlaqul karimah.
Anakku engkau adalah bagian dari lukisan sejarah Abi dan Bunda, lukislah sejarah yang indah untuk Abi dan Bunda.
Semoga ya nak! Selamat berjuang, do’a Abi dan Bunda menyertai mu.
Ponpes DQA, 23 Juli 2017
Ponpes DQA, 23 Juli 2017

Rabu, 28 Juni 2017

Kenapa saya memilih pesantren untuk anak saya



Ceramah salah satu ustadz menambah keyakinan saya, memasukan anak saya ke dunia pesantren, dalam video tersebut sang ustadz menjelaskan bahwa sebelum usia dewasa, orang tua lah yang bertanggung jawab terhadap pemilihan pendidikan, kelak dewasa barulah si anak boleh memilih sesuai dengan keinginan serta bakatnya, kenapa perlunya basic agama untuk anak-anak kita, karena agamalah yang di perlukan di akherat nanti, ketika anak saya punya skill lain, tetapi tidak di landasi dengan ilmu agama, akherat akan Nol, dan begitu sebaliknya.  

Pesantren adalah salah satu solusi untuk membendung anak saya terjerumus dalam pergaulan bebas. Suatu malam, saya ingat tepatnya malam minggu, ada hajatan di seberang depan rumah saya, tanpa sengaja, saya melihat anak tetangga saya sedang di apelin oleh pacarnya, tangan laki si pacar memegang dagu pacarnya, dan apa yang terjadi….……selangkah lagi ini anak pasti ke KUA, padahal  usianya masih sekolah tingkat pertama,  ini salah satu kekhawatiran akan pergaulan bebas anak zaman sekarang, belum lagi bahaya narkoba, tauran antar pelajar, geng motor, dan masih banyak kekhawatiran saya yang lainnya, memang sih setiap anak tergantung orangtuanya, tapi apa bisa kita protek anak 24 jam  di rumah, di rumah sudah di proteksi dengan agama, dilingkungan sekolah kebobolan.

Ke khawatiran yang lain, kita hidup diakhir zaman, tanda-tanda kiamat sudah dekat, kalau kita tidak mempersiapkan anak kita,  akan muncul dajal-dajal kecil yang akan  mempengaruhi pola pikir anak kita.
“Lebih baik  menangis karena berpisah sementara dengan anak, karena menuntut ilmu agama daripada, sudah tua menangis karena anak saya lalai urusan akhirat, memikirkan dunia, rebutan harta, suka pamer, dan lupa akan akherat kelak,”  
Seburuk-buruknya santri, paling tidak dia tahu bagaimana cara bertobat dan minta ampun pada Allah. Apalagi saya tidak selamanya hidup di dunia ini. Bila anak saya pernah nyantri, dia tahu bagaimana cara mendoakan orangtuanya yang sudah meninggal.

Menurut K.H. Hasan Abdullah Sahal “bahwa para santri yang sedang menuntut ilmu di pesantren akan selalu dilindungi Allah. Alquran selalu menjaganya. Semua orangtua santri harus yakin ini.Bahkan dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan dari Abu Darda menyatakan bahwa orang yang sedang menuntut ilmu didoakan oleh semua makhluk Allah yang berada di langit maupun bumi, termasuk ikan-ikan di sungai dan laut (H.R. Ibnu Majah).

Ikhtiar Kebaikan untuk anak saya, kalaupun Allah mentakdirkan lain untuk anak saya kelak, Saya Ridho Ya Allah.

Depok 28 Juni 2017 


summer collection